Kamis, 17 Februari 2011

Syarat Ber Ibadah dan Ber Do'a Syarat-Syarat Ibadah

1. Ikhlas karena Allah dan untuk Allah semata.
Firman Allah: ”Barangsiapa percaya akan menemui Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal salih, dan janganlah ia sekutukan (sertakan) seorang manusiapun dalam beribadat kepada Allah” Al Kahfi:110
Firman Allah: ”Tidaklah mereka diperintahkan, kecuali agar mereka beribadah menyembah Allah secara ikhlas beragama untuk Nya” al Bayyinah:5


2. Cara-cara beribadah haruslah seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w.
Sabda Rasulullah s.a.w: ”Tiap amal (ibadah) yang tidak sesuai dengan cara yang kami lakukan (perintahkan) akan ditolak.”

Syarat-Syarat Isti’anah (Berdoa)
Menjauhi segala yang haram, baik berupa makanan, minuman atau pakaian.
Ikhlas karena Allah.
Firman Allah: ”Berdoalah akan Allah dengan Ikhlah dalam beragama bagi Nya” (al Mu’min: 14 )
Didahului dengan wudhu.
Hadist yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Abbas r.a.: berkata Rasulullah s.a.w.: ”Makruh aku berzikir (mengingat) Allah kecuali dalam keadaan suci (Berwudhu).”
Lebih sempurna lagi kalau sesudah berwudhu, lalu sholat 2 rakaat.
Hadist dikeluarkan oleh Hakim dan Tirmidzi: berkata Rasulullah s.a.w: ” Siapa yang mempunya hajat kepada Allah atau kepada salah seorang Bani Adam (manusia), maka hendaklah ia berwudhu dengan sebaik-baiknya dan sembahyang 2 rakaat, lalu hendaklah ia menyanjung Allah s.w.t. dan hendaklah ia bershalawat terhadap Nabi s.a.w”
Hendaklah berdoa dengan menghadap ke arah Qiblat.
Diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lain bahwa Rasulullah s.a.w selalu menghadap ke Qiblat dalam berdoa di banyak medan perang, diantara perang badar.
Membukakan kedua telapak tangan dan mengangkatnya sampai sejajar dengan bahu.
Bertawassul (perantara) dengan Nabi-Nabi dan orang-orang Sholeh.
Berdoa dengan suara yang pelan
Hadis Bukhari dan Muslim dari Abu Musa, Rasulullah s.a.w berkata ”Janganlah berdoa dengan suara yang terlalu keras, karena Allah yang kamu mohon tidak tuli dan tidak jauh.”
Berdoa dengan mengakui semua dosa yang sudah dilakukan dalam hidup
Hadis dari Ali bin Abu Talib r.a. berkata Rasulullah: ”Aku sudah aniaya terhadap diriku (bersalah) dan aku mengakui akan dosaku, maka ampunilah segala dosa-dosaku semuanya.”
Mulai berdoa untuk diri sendiri lebih dahulu baru untuk orang lain atau ummat muslimin seluruhnya.
Tidak boleh mengkhususkan doa untuk diri sendiri bila yang berdoa itu adalah seorang yang menjadi Imam.
Hadis Hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah berkata: ”Janganlah mengimami seorang akan satu kaum, lalu dia mengkhususkan dirinya sendiri dalam berdoa. Jika berbuat demikian maka sungguh-sungguh ia sudah mengkhianati mereka.”
Berdoa dengan permohonan yang sungguh-sungguh dengan kesadaran sepenuh hati dan berbaik sangka kepada Allah.
Sabda Rasulullah: ”Hati adalah tempat mengingat. Sebahagiannya lebih kuat ingatannya atas lainnya. Maka bila kamu meminta akan Allah Ta’ala, hai manusia, maka mintalah dengan penuh keyakinan akan dikabulkanNya. Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa seorang yang keluar dari hati yang lalai”. Riwayat Ahmad, Tarmidzi dan Hakim dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar.
Diulang-ulangi mengucapkannya.
Sabda Rasulullah: ”Kebiasaan Rasullullah s.a.w. bila berdoa, diulang-ulangi sampai 3 kali”
Jangan berdoa tentang dosa dan memutuskan persahabatan.
Sabda Rasulullah:”Dikabulkan doa seseorang selama ia tidak berdoa tentang dosa atau memutuskan silatur rahmi.
Jangan meminta yang mustahil
Firman Allah: ”Sesungguhnya Allah tidak cinta terhadap orang-orang yang melampui batas.” Al A’raf: 54.
Jangan berdoa untuk mencegah kebahagiaan bagi orang lain.
Berdoalah tentang segala hal sampai perkara yang sekecil-kecilnya.
Sabda Rasulullah s.a.w. : ”Hendaklah seseorang meminta segala keperluannya kepada Tuhannya, sampai-sampai mintalah tali terompah bila sudah putus”.
Jangan terburu-buru agar segera dikabulkan Allah.
Sabda Rasulullah s.a.w. : ”Tidak ada seorang Muslim berdoa selama tidak tentang dosa dan memutuskan silaturahmi, yang tidak dikabulkan oleh Allah, tetapi akan dikabulkan Allah dengan salah satu dari tiga: Segera dikabulkan sebagai yang dimintainya, atau disimpan oleh Allah untuk dibayarkan kepadanya di akhirat nanti atau dijauhkan dari suatu kejelekan menurut keadaan doanya itu.”
Berdoa denga bertawassul (perantara) dengan amal sholeh yang pernah dilakukan.

“Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang berdakwah kepada Allah dan beramal sholih dan dia mengatakan: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Islam).” (At-Taghabun:16)

Bulan Rajab adalah bulan milik Allah

Ikhwatufillah Rohimakumullah
Apabila kita sudah memasuki di pertengahan rajab. disunnahkan membaca doa di bawah ini:

“Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wabalighna Ramadhan”

Ya Allah berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban dan sampaikan kami pada Ramadhan
Tulisan dibawah ini adalah tentang puasa rajab dan keistimewaannya

BULAN Rajab adalah bulan milik Allah. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, "Ketahuilah bahwa bulan Rajab itu adalah bulan ALLAH”:
1. Barang siapa berpuasa satu hari dalam bulan ini dengan ikhlas, ia pasti mendapat keridhaan besar dari ALLAH SWT.
2. Barang siapa berpuasa pada Isra Mi'raj akan mendapat pahala seperti berpuasa lima tahun
3. Barang siapa berpuasa dua hari di bulan Rajab akan mendapat kemuliaan di sisi ALLAH SWT
4. Barang siapa berpuasa tiga hari pada tanggal 1, 2, dan 3 Rajab, ALLAH akan memberikan pahala seperti berpuasa 900 tahun dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa akhirat
5. Barang siapa berpuasa lima hari dalam bulan ini, insya Allah permintaannya akan dikabulkan
6. Barang siapa berpuasa tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan tujuh pintu neraka jahanam.
7. Barang siapa berpuasa delapan hari maka akan dibukakan delapan pintu syurga
8. Barang siapa berpuasa lima belas hari dalam bulan ini, ALLAH akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan menggantikan semua kejahatan dengan kebaikan.
9. Barang siapa menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan pahala

Sabda Rasulullah SAW :
"Pada malam Mi'raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi. Saya bertanya pada Jibril AS: "Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?" Maka berkata Jibrilb AS: "Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajab ini".

Sebuah riwayat Tsauban:
"Ketika kami berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih. Kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau,"Ya Rasulullah mengapakah engkau menangis?" Lalu beliau bersabda, "Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur dan saya berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa atas mereka".

Sabda beliau lagi: "Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja pada bulan Rajab, niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam kubur."
Tsauban bertanya: "Ya Rasulullah,apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat mengelakkan dari siksa kubur?" Sabda beliau: "Wahai Tsauban, demi ALLAH Zat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat karena ALLAH, kecuali ALLAH mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan sholat malam satu tahun."

Sabda beliau lagi: "Sesungguhnya Rajab adalah bulan ALLAH, Sya'ban Adalah bulan aku dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku". "Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi,keluarga nabi dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya'ban, dan bulan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan haus bagi mereka."

Shalawat dan Salam

Bismillahirrahmaanirrahiim.Allahumma shalli alaa sayyidina Muhammadinil fatihi lima ughiwa wal khatimi lima sabaqa wanasiril haqqa bil haqqi wal haadi ilaa siratikal mustakiim wa shalallahu allaihi wa alaa aalihi wa shahbihi haqqa qadrihi wa miqdarihil adziim.(http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org)

SHALAWAT & SALAM teruntuk NABI SAW

sebagai Muslim kita diperintahkan oleh Allah SWT agar menyebut nama Rasulullah SAW disertai dengan rasa ta’zhim dan dengan sebutan yang baik, sopan, menghormatinya serta memuliakannya, begitu pun juga waktu kita menuliskan nama atau sebutan atau panggilan buat beliau Nabi SAW.

Allah SWT berfirman : “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)”. (QS.An-Nur:63). “Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikut cahaya yang terang benderang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran). Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS.Al-A’raf:157).

Serta sebagai Muslim kita juga diperintahkan oleh Allah SWT agar senantiasa membaca Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS.Al-Ahzab:56).Kata “shalawat” merupakan bentuk jamak dari kata “shalat”, yang artinya doa atau seruan kepada Allah SWT. Sedangkan kata “salam” artinya sejahtera, damai, aman sentosa, dan selamat.

Membaca shalawat dan mengucapkan salam untuk Nabi Muhammad SAW memiliki maksud mendoakan dan memohonkan berkah kepada Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW, dengan harapan semoga Nabi SAW senantiasa sejahtera, damai, aman sentosa, dan selalu mendapatkan keselamatan.Al-Arif ash-Shawi menyatakan shalawat Allah SWT untuk mahluknya selain Nabi SAW adalah rahmat-Nya, sedangkan shalawat Allah SWT untuk Nabi SAW adalah rahmat-Nya yang disertai ta’zhim. Ayat tersebut menyiratkan satu dalil yang sangat besar, bahwa Rasulullah SAW adalah tempat curahan rahmat dan mahluk yang paling utama secara mutlak.

Hikmat shalawat malaikat dan kaum muslimin itu adalah untuk memuliakan mereka dengan shalawat itu, sebab mereka telah mengikuti perintah Allah SWT untuk menampakkan kebesaran Nabi Muhammad SAW dan untuk memenuhi sebagian hak-hak Nabi SAW.Syaikh Ahmad bin Muhammad ash-Shawi menjelaskan bahwa Allah SWT menghormati dan menurunkan rahmat-Nya atas Nabi SAW, para malaikat juga menghormati dan memohonkan rahmat untuk Nabi SAW. Dan Allah SWT memerintahkan kepada semua orang beriman agar menghormati, memuliakan Nabi Muhammad SAW, dan memohonkan rahmat-Nya untuk Nabi SAW.

Hal ini suatu bukti bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mulia dibandingkan dengan yang lainnya, yang mendapat kemuliaan dari Allah SWT.Imam Al-Bukhari rahimahullah menjelaskan bahwa menurut Abu al-Aliyah maksud dari shalawat dari Allah SWT untuk Nabi SAW itu adalah sanjungan Allah SWT terhadap Nabi SAW dihadapan para malaikat-Nya, sedangkan shalawat malaikat itu adalah doa.

Al-Hafizh as-Shakhawi menjelaskan bahwa Allah SWT melalui ayat tersebut memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan Nabi-Nya disisi-Nya kepada alam ‘ulluwwi –alam malaikat- dan kemudian para malaikat pun kemudian menyanjung serta mendoakan Nabi-Nya. Allah SWT melalui ayat tersebut memerintahkan kepada alam sufla –alam manusia- agar memberikan shalawat dan salam kepada Nabi-Nya, supaya dari kedua alam tersebut terkumpul sanjungan dan pujian kepada Nabi SAW. Ayat tersebut memakai sighat mudhari menunjukkan sesuatu yang berkesinambungan dan terus-menerus bahwa Allah SWT dan seluruh malaikat-Nya selalu dan selamanya ber-shalawat kepada Nabi SAW.“Jika seseorang diantara kalian memberikan salam kepadaku ketika berada di sisi kuburku, maka Allah akan mengembalikan ruhku kepadaku untuk menjawab salamnya itu”. (HR. Abu Dawud).

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa sesungguhnya berlipat gandanya pahala shalawat atas Nabi SAW adalah karena shalawat itu bukan hanya mengandung banyak kebaikan, didalamnya juga tercakup : Pembaharuan iman kepada Allah SWT, Pembaharuan iman kepada Rasul SAW, Pengagungan terhadap Rasul SAW, Dengan inayah Allah SWT memohon kemulian bagi Nabi SAW, Pembaharuan iman kepada Hari Akhir dan berbagai kemuliaan, Dzikrullah, Menyebut orang-orang yang salih, Menampakkan kasih sayang kepada mereka, Bersungguh-sungguh dan tadharru dalam berdoa, Pengakuan bahwa seluruh urusan itu berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Annas bin Malik berkata, Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah memberikan kepadanya sepuluh shalawat, dan dihapus daripadanya sepuluh kesalahan (perbuatan dosa), serta diangkat pula dia pada sepuluh derajat”.Abu Umamah Al-Bahili ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala menjanjikan kepadaku, bahwa apabila aku telah meninggal dunia, maka Dia menjadikan aku dapat mendengar shalawat yang dibacakan oleh orang untukku, sedangkan aku di kota Madinah dan umatku didunia timur dan barat. Lalu beliau berkata : ‘Wahai Abu Umamah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan seluruh dunia ini dan semua mahluk yang diciptakan oleh Allah ada dalam kuburku. Aku bisa mendengar dan bisa melihatnya. Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah Ta’ala bershalawat untuknya sepuluh kali. Dan barangsiapa membaca shalawat untukku sepuluh kali, maka Allah bershalawat untuknya seratus kali”.

Fadhilah membaca shalawat dan salam untuk Nabi SAW itu banyak sekali, diantaranya adalah Syafaat beliau Nabi SAW pada hari Kiamat kelak. “Barangsiapa membaca : ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, dan tempatkanlah dia pada kedudukan yang dekat disisi-Mu pada Hari Kiamat’ , maka pasti dia mendapat syafaatku”. (HR. Zaid bin Khabbab).“

Apabila kamu mendengar mu’azzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya. Lalu bershalawatlah kamu kepadaku. Sebenarnya barangsiapa bershalawat kepadaku dengan satu shlawat, niscaya Allah bershalawat kepadanya dengan sepuluh shalawat. Kemudian sesuadah itu, mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah itu merupakan kedudukan yang paling tinggi dalam surga. Dia tidak dapat diperoleh, kecuali oleh seorang saja dari hamba-hamba Allah. Aku berharap, semoga akulah yang mendapatkan kedudukan itu. Karena itu, barangsiapa memohonkan wasilah untukku, wajiblah baginya syafaatku”. (HR.Muslim)

.Sayyidina Umar bin Khaththab berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Pada hari Jum’at, datang dikuburanku seribu malaikat menengokku. Selesai menengok, mereka berjalan didunia timur dan barat. Tiap-tiap orang yang mereka dengar membaca shalawat untukku, maka dibawanya shalawat itu untuk diletakkannya dibawah ‘Arasy. Setelah itu, mereka berkata :’Wahai Tuhan kami, ini adalah shalawat fulan bin fulan’. Allah Ta’ala lalu berfirman :’Sesungguhnya Aku bershalawat untuknya sebanyak itu pula. Bawalah shalawat itu kepada Jibril, supaya dia meletakkannya, hingga shalawat itu akan datang kepada pembacanya pada Hari Kiamat. Dan akan Aku letakkan shalawat itu ditimbangan orang yang membacanya. Kelak, shalawat itu datang kepada yang membacanya, sehingga timbangannya pun menjadi berat dan pembacanya terus menuju kedalam surga”.

Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Hiasilah tempat-tempat pertemuanmu dengan membaca shalawat untukku. Karena sesungguhnya shalawatmu itu menjadi sinar pada Hari Kiamat”.“Nabi SAW bersabda : ‘Perbanyak olehmu membaca shalawat kepadaku, karena shalawatmu untukku itu akan menjadi cahaya bagimu pada Hari Kiamat”. (HR.Thabrani dan Abu Dawud).

Ibnu Mas’ud ra mengatakan bahwa ketika Nabi SAW berada dikelompok para sahabatnya, beliau bersabda : “Sesungguhnya umatku kelak akan terbagi kedalam beberapa kelompok. Lalu Allah akan memanggil mereka pada Hari Kiamat : ‘Hai para hamba-KU, masuklah kalian kedalam surga’. Maka mereka kebingungan di padang yang luas pada Hari Kiamat itu, hingga Allah memberi petunjuk kepada mereka jalan ke surga. Para sahabat bertanya : ‘Siapakah mereka itu ya Rasulullah ?’. Rasul menjawab : ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak membaca shalawat untukku, ketika namaku disebut dihadapannya karena lupa atau lalai”. Kemudian Nabi SAW bersabda lagi : “Barangsiapa lupa membaca shalawat untukku, maka dia akan lupa jalan menuju surga”.“Apabila telah datang Hari Kiamat, maka saya adalah pemimpin dari seluruh dari seluruh nabi. Saya juru bicara mereka, dan saya pemberi syafaat diantara mereka. (ini saya kemukakan) bukanlah karena kesombongan”. (HR. Abu Dawud).“Barangsiapa bershalawat kepadaku diwaktu pagi sepuluh kali dan waktu petang sepuluh kali, maka ia akan mendapatkan syafaatku di Hari Kiamat”. (HR.Ath-Thabari).“Saya adalah penghulu anak Adam pada Hari Kiamat, orang yang pertama bangkit dari kubur, orang yang pertama memberi syafaat, dan orang yang pertama dibenarkan memberi syafaat”. (HR. Muslim yang dirawikan oleh Abu Dawud).

“Pada Hari Kiamat, saya adalah imam pemimpin para nabi, juru bicaranya, dan pemberi syafaat untuk mereka, bukan untuk membanggakan diri”. (HR.Tirmidzi).Ibnu Umar ra berkata bahwa Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya matahari itu akan dekat pada Hari Kiamat. Sehingga karena panasnya, lalu keringat mahluk saat itu akan sampai di separuh telinganya. Diwaktu mereka dalam keadaan demikian, mereka pun meminta tolong kepada Adam. Lalu Nabi Adam berkata : ‘Saya tidak dapat mengerjakan itu (tidak dapat memberikan pertolongan apa-apa)’. Selanjutnya mereka minta tolong kepada Musa. Namun, ia pun berkata seperti Adam. Akhirnya mereka meminta tolong kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau lalu memberikan syafaatnya, yaitu agar segera diadakan keputusan antara seluruh mahluk. Nabi SAW berjalan sambil memegang lingkaran pintu surga. Dikala itulah Allah SWT mengaruniakan untuknya maqam mahmud (kedudukan yang terpuji) yang mendapat pujian dari seluruh mahluk”.Ubay bin Ka’ab ra berkata : “Pada Hari Kiamat Nabi Adam AS melihat salah seorang umat Nabi Muhammad SAW digiring ke neraka. Lalu Nabi Adam AS memanggil Nabi Muhammad SAW :’Ya Muhammad’, beliau menjawab :’Hai Abul Basyar’. Nabi Adam pun meneruskan pembicaraannya :’Sungguh ada seorang dari umatmu yang digiring ke neraka’, lalu Nabi Muhammad SAW berlari menuju orang itu dan berdiri dibelakngnya, kemudian berkata : ‘Hai para malaikat, berhentilah’. Para malaikat menjawab : ’Ya Muhammad bukankah engkau telah membaca Firman Allah SWT yang berbunyi : “Mereka (para malaikat) itu tidak mendurhakai segala perintah Allah, dan mengerjakan perintah-Nya. Maka mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya (para malaikat)”. Lalu Allah SWT berfirman : “Wahai segenap malaikat, taatlah kamu sekalian kepada Muhammad, kembalikan dia ke timbangan (mizan), untuk ditimbang ulang”.

Akhirnya para malaikat pun mengembalikan orang itu ke mizan. Lalu amalnya ditimbang kembali. Ternyata amal buruknya lebih berat daripada amal baiknya. Selanjutnya, nabi SAW mengeluarkan secarik kertas catatan dari sakunya dan meletakkannya pada bejana timbangan amal baik orang itu. Tiba-tiba amal baiknya menjadi lebih berat ketimbang amal buruknya. Orang itu pun merasa gembira sekali, lalu berjata : ‘Demi ayah dan ibuku, sebenarnya siapakah engkau ini ?’. Rasulullah SAW menjawab : ‘Aku adalah Muhammad, Nabimu’. Mendengar jawaban itu, orang tersebut segera mencium kaki Nabi SAW, seraya berkata lagi : ‘Wahai Rasulullah, catatan apakah yang tertulis dalam kertas itu ?’, beliau menjawab : ‘Itu adalah catatan shalawat yang pernah engkau baca ketika masih berada didunia, aku menyimpannya untukmu’. Akhirnya orang itu pun masuk ke dalam surga”.

Tentulah kita semua mahfum bahwa syafaat itu adalah atas Izin-Nya, sesuai dengan Firman Allah SWT : “ Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya”. (QS.Al-Baqarah:255). Serta tentulah diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan Ridho-Nya, sesuai dengan Firman Allah SWT : “Dan mereka tidak dapat memberikan syafaat, melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah”. (QS.Al-Anbiya:28).Dalam tafsir Fakhr ar-Razi disebutkan bahwa Shalawat atas Nabi SAW, itu bukan karena beliau membutuhkan, bahkan shalawat para malaikat pun tidak tidak dibutuhkannya setelah adanya shalawat dari Allah SWT kepadanya itu. Namun, semua itu adalah untuk menampakkan kebesaran Nabi SAW, sebagaimana Allah SWT telah mewajibkan atas kita berzikir menyebut nama-Nya, padahal pasti Dia tidak membutuhkan semua itu. Namun, semua itu adalah untuk menampakkan kebesaran-Nya, dan sebagai belas kasihan kepada kita supaya dengan adanya zikir itu, Dia memberi pahala kepada kita. Perintah bershalawat juga dimaksudkan agar umat mengetahui bahwa Allah SWT tidak akan menerima amal perbuatan seseorang kecuali dengan ber-tawassul dengan membaca shalawat untuk Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya doa itu berhenti antara langit dan bumi, tidak beranjak naik sedikitpun, hingga engkau bershalawat kepada Nabimu”. (HR.Tirmidzi).Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi SAW bersabda : “Tiada suatu doa, kecuali antara doa dengan langit terdapat sebuah hijab, sampai (didalam doa itu) dibacakan shalawat untuk Nabi SAW. Apabila telah dibacakan shalawat, terbukalah hijab, dan masuklah doa itu. Namun jika tidak dilakukan demikian, maka kembalilah doa itu”.Sayyidina Ali ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda : “Tiada suatu doa, kecuali antara doa dengan Allah Ta’ala terdapat suatu hijab. Sampai, yang berdoa itu membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Kalau hal itu dilakukan, maka tersingkaplah hijab itu, dan dikabulkanlah doa baginya”.

“Tiap-tiap urusan penting dan berharga yang tidak dimulai dengan hamdalah dan shalawat, maka urusan itu akan kehilangan berkahnya”. (HR.Ar-Rahman).“Jika ada dua orang hamba yang saling menyayangi karena Allah, lalu ketika berjumpa keduanya saling berjabat tangan dan bershalawat untuk Nabi SAW, maka sebelum mereka berpisah Allah mengampuni dosanya, baik yang lalu maupun yang akan datang”. (HR.Ibnu Sunny).Anas bin malik berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Jika ada dua orang Muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan sambil membaca shalawat untukku, maka keduanya tidak akan berpisah hingga Allah mengampuni dosa mereka yang terdahulu maupun yang akan datang, karena kemuliaan-Nya”.

“Jika suatu kaum berkumpul dalam sebuah majelis dalam waktu yang sangat lama, kemudian mereka bubar tapi tidak menyebut nama Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi, niscaya mereka menghadapi kekurangan dari Allah. Jika Allah menghendaki, maka Allah akan mengazab mereka, dan jika Allah menhendaki, Dia akan memberi ampunan kepada mereka”. (HR.Tirmidzi).Jelas sekali bahwa orang yang telah mendapatkan jaminan ganjaran yang sedemikian besar dari Allah SWT itu, tentu tidak membutuhkan tambahan shalawat dan hadiah amal dari umat pengikutnya.


Perintah Allah SWT kepada hamba-Nya agar membaca shalawat kepada Nabi-Nya adalah untuk memberitahukan bahwa betapa tinggi derajat Nabi Muhammad SAW disisi Allah SWT, Nabi SAW adalah satu-satunya manusia pilihan yang paling utama diantara seluruh mahluk-Nya.“Tidak dikatakan beriman seseorang diantara kamu sebelum ia mencintai aku lebih daripada mencintai anaknya, ayahnya, dan manusia semua”. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).Siti Aisyah berkata bahwa : “Barangsiapa cinta kepada Allah Ta’ala, maka dia banyak menyebutnya. Dan buahnya ialah Allah akan mengingat dia, juga memberi rahmat dan ampunan kepadanya, serta memasukkannya ke surga bersama para nabi dan para wali, dan Allah memberi kehormatan pula kepadanya dengan melihat keindahan-Nya. Dan barangsiapa cinta kepada Nabi SAW, maka hendaklah ia banyak membaca shalawat untuk nabi SAW, dan buahnya ialah ia akan mendapat syafaat dan akan bersama beliau di surga”.

Diantara karunia Allah SWT yang diberikan kepada Nabi-Nya adalah menggabungkan zikir kepada-Nya dengan zikir kepada Nabi-Nya didalam dua kalimat Syahadat. Menjadikan ketaatan kepada Nabi-Nya sebagai ketaatan kepada-Nya, kecintaan kepada Nabi-Nya sebagai kecintaan kepada-Nya. Mengaitkan Mengaitkan pahala shalawat atas Nabi-Nya dengan pahala Dzikrullah.Sayyid Abdul Wahhab asy-Sya’rani, menuturkan : “Aku bermimpi bertemu penghulu alam semesta, Rasulullah SAW, lalu aku bertanya : ‘Ya Rasulullah, shalawat Allah sepuluh kali yang diberikan kepada orang yang bershalawat atas diri Nabi SAW satu kali itu, apakah bagi mereka yang hatinya hadir ?’. Beliau Nabi SAW menjawab : ‘Tidak, ganjaran itu diberikan kepada setiap orang yang mengucapkan shalawat atasku walaupun ia lalai, dan Allah mengutus kepadanya malaikat sebanyak jumlah gunung yang mendoakan dan memohonkan ampunan baginya. Sedangkan kalu ia membacanya dengan hati yang hadir, maka tidak ada yang mengetahui pahalanya kecuali Allah SWT”.

Sebagai bentuk kepatuhan kita atas perintah Allah SWT untuk bershalawat untuk Nabi SAW, serta sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, maka diantaranya adalah melalui memperbanyak membaca shalawat pada setiap waktu, keadaan, dan kesempatan. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan dan kekuatan kepada kita untuk menjalankannya, untuk menggapai Rahmat-Nya dan Ridho-Nya. Amin Ya Robbal

Make up Muslimah

Ketahui rahasia sebenar make up muslimah :

*Jadikanlah "Ghadul Bashar" (menundukkan pandangan sebagai "hiasan mata" anda, nescaya akan semakin bening dan jernih.

*Oleskan "Lipstik Kejujuran" pada bibir anda, nescaya akan semakin manis.*Gunakanlah "Pemerah Pipi" anda dengan kosmetik yang terbuat dari rasa malu yang dibuat dari salun Iman.

*Pakailah "Sabun Istighfar" yang menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang anda lakukan.

*Rawatlah rambut anda dengan "Selendang Islami" yang akan menghilangkan kelumumur pandangan laki-laki yang membahayakan.

*Hiasilah kedua tangan anda dengan "Gelang Tawadhu'" dan jari-jari anda dengan "Cincin Ukhuwah".

*Bedakilah wajah anda dengan "Air Wudhu'" nescaya akan bercahaya di akhirat.InshaAllah semoga hidup kita diberkati Allah s.w.t..

Keistimewaan Wanita Menurut Hadis

1. Doa wanita itu lebih makbuldaripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAWakan hal tersebut, jawab baginda , "Ibu lebih penyayang dari pada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."

2. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang soleh.

3. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis karena takut akan Allah . Dan orang yang takutkan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

4. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku(Rasulullah SAW) di dalam syurga.

5. Barangsiapa membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya) maka pahalanya seperti melakukan amalan bersedekah.Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

6. Syurga itu di bawah telapak kakiibu.

7. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggungjawab,maka baginya adalah syurga.

8. Apabila memanggil akan dirimu dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu terlebih dahulu.

9. Daripada Aisyah r.a." Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutuplah pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-manapun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

11. Wanita yang taat pada suaminya,maka semua ikan-ikan di laut, burungdi udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga solat dan puasanya.

12. Aisyah r.a berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?" Jawab Rasulullah SAW "Suaminya." "Siapa pulaberhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah SAW, "Ibunya."

13. Perempuan apabila sembahyang limawaktu, puasa di bulan Ramadhan,memelihara kehormatannya serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, makaAllah SWT memasukkan dia ke dalam syurga terlebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya,maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkanb aginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWTmencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

18. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

19. Apabila semalaman seorang ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.

Subhanallah...betapa mulianya Wanita....

Sepuluh Wasiat untuk Istri yang Mendambakan “Keluarga Bahagia tanpa Problema”

Penulis: Mazin bin Abdul Karim Al-Farih

Berikut ini sepuluh wasiat untuk wanita, untuk istri, untuk ibu rumah tangga dan ibunya anak-anak yang ingin menjadikan rumahnya sebagai pondok yang tenang dan tempat nan aman yang dipenuhi cinta dan kasih sayang, ketenangan dan kelembutan.

Wahai wanita mukminah!
Sepuluh wasiat ini aku persembahkan untukmu, yang dengannya engkau membuat ridla Tuhanmu, engau dapat membahagiakan suamimu dan engkau dapat menjaga tahtamu.

Wasiat Pertama: Takwa kepada Allah dan menjauhi maksiat
Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah!!
Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncangkan kerajaan. Maka janganlah engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah dan jangan engkau seperti Fulanah yang telah bermaksiat kepada Allah… Maka ia berkata dengan menyesal penuh tangis setelah dicerai oleh sang suami: “Ketaatan menyatukan kami dan maksiat menceraikan kami…”

Wahai hamba Allah… Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu dan menjaga untukmu suamimu dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan mencerai-beraikan keutuhannya.

Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata “Aku mohon ampun kepada Allah… itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku)…”

Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:
- Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar. Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat riya’ dan sum’ah.
- Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan).” (Al Hujuraat: 11)

- Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَحَبُّ الْبِلادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهُمْ وَأَبْغَضَ الْبِلادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهُمْ
“Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.”1

- Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pembantu dan pendidik-pendidik yang kafir.
- Meniru wanita-wanita kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.”2
- Menyaksikan film-film porno dan mendengarkan nyanyian.
- Membaca majalah-majalah lawakan/humor.
- Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan mendesak.
- Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.3
- Bersahabat dengan wanita-wantia fajir dan fasik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ
“Seseorang itu menurut agama temannya.”4
- Tabarruj (pamer kecantikan) dan sufur (membuka wajah)

Wasiat kedua: Berupaya mengenal dan memahami suami
Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala).

Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya memahami suaminya.
Berkata sang suami kepada temannya: “Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”
Maka berkata temannya dengan heran: “Bagaimana hal itu bisa terjadi.”
Berkata sang suami: “Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’ Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah dan shalawat atas Rasulullah… Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Demi Allah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan: ‘Segala puji bagi Allah dan aku mengucapkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang bila engkau tetap berpegang padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu dan jika engkau tinggalkan (tidak melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau lihat dari kejelekkan tutupilah.’ Istri berkata: ‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi keluargaku?’ Aku menjawab: ‘Aku tidak suka kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami tidak menginginkan istrinya sering berkunjung). Ia berkata lagi: ‘Siapa di antara tetanggamu yang engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang engkau tidak sukai maka akupun tidak menyukainya?’ Aku katakan: ‘Bani Fulan adalah kaum yang shaleh dan Bani Fulan adalah kaum yang jelek.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Lalu aku melewati malam yang paling indah bersamanya. Dan aku hidup bersamanya selama setahun dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku. Lalu ibu mertuaku berkata kepadaku: ‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’”
Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”
Ibu mertuaku berkata: “Wahai Abu Umayyah.. Demi Allah, tidak ada yang dimiliki para suami di rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada istri penentang (lancang). Maka didiklah dan perbaikilah akhlaknya sesuai dengan kehendakmu.”
Berkata sang suami: “Maka ia tinggal bersamaku selama dua puluh tahun, belum pernah aku mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali sekali, itupun karena aku berbuat dhalim padanya.”5

Alangkah bahagia kehidupannya…! Demi Allah, aku tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya? Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan yang diberikan untuk putrinya? Ataukah terhadap sang suami dan hikmah yang dimilikinya? Itu adalah keutamaan Allah yang diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Wasiat ketiga: Ketaatan yang nyata kepada suami dan bergaul dengan baik
Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”6

Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِثْنَانِ لا تُجَاوِزُ صَلاتُهُمَا رُؤُوْسُهُمَا: عَبْدٌ آبَق مِنْ مَوَالِيْهِ حَتَّى يَرْجِعَ وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ
“Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali.”7
Karena itulah Aisyah Ummul Mukminin berkata dalam memberi nasehat kepada para wanita: “Wahai sekalian wanita, seandainya kalian mengetahui hak suami-suami kalian atas diri kalian niscaya akan ada seorang wanita di antara kalian yang mengusap debu dari kedua kaki suaminya dengan pipinya.”8

Engkau termasuk sebaik-baik wanita!!
Dengan ketaatanmu kepada suamimu dan baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjadi sebaik-baik wanita, dengan izin Allah. Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wanita bagaimanakah yang terbaik?” Beliau menjawab:
اَلَّتِى تَسِرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلا تُخَالِفُهُ فِيْ نَفْسِهَا وَلا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
“Yang menyenangkan suami ketika dipandang, taat kepada suami jika diperintah dan ia tidak menyalahi pada dirinya dan hartanya dengan yang tidak disukai suaminya.” (Isnadnya hasan)
Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
اَلْمَرْأَةُ إِذَا صَلَّتْ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، فَلْتَدْخُلُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ
“Bila seorang wanita shalat lima waktu, puasa pada bulan Ramadlan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”9

Wasiat keempat: Bersikap qana’ah (merasa cukup)
Kami menginginkan wanita muslimah ridla dengan apa yang diberikan (suami) untuknya baik itu sedikit ataupun banyak. Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu. Dalam riwayat disebutkan “Wanita yang paling besar barakahnya.” Wahai siapa gerangan wanita itu?! Apakah dia yang menghambur-hamburkan harta menuruti selera syahwatnya dan mengenyangkan keinginannya? Ataukah dia yang biasa mengenakan pakaian termahal walau suaminya harus berhutang kepada teman-temannya untuk membayar harganya?! Sekali-kali tidak… demi Allah, namun (mereka adalah):
أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةٌ، أَيْسَرُّهُنَّ مُؤْنَةً
“Wanita yang paling besar barakahnya adalah yang paling ringan maharnya.”10
Renungkanlah wahai suadariku muslimah adabnya wanita salaf radliallahu ‘anhunna… Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat padanya. Apa wasiatnya? Ia berkata kepada sang suami: “Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa sabar dari api neraka…”
Adapun sebagian wanita kita pada hari ini apa yang mereka wasiatkan kepada suaminya jika hendak keluar rumah?! Tak perlu pertanyaan ini dijawab karena aku yakin engkau lebih tahu jawabannya dari pada diriku.

Wasiat kelima: Baik dalam mengatur urusan rumah, seperti mendidik anak-anak dan tidak menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya. Termasuk pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.

Renungkanlah semoga Allah menjagamu, kisah seorang wanita, istri seorang tukang kayu… Ia bercerita: “Jika suamiku keluar mencari kayu (mengumpulkan kayu dari gunung) aku ikut merasakan kesulitan yang ia temui dalam mencari rezki, dan aku turut merasakan hausnya yang sangat di gunung hingga hampir-hampir tenggorokanku terbakar. Maka aku persiapkan untuknya air yang dingin hingga ia dapat meminumnya jika ia datang. Aku menata dan merapikan barang-barangku (perabot rumah tangga) dan aku persiapkan hidangan makan untuknya. Kemudian aku berdiri menantinya dengan mengenakan pakaianku yang paling bagus. Ketika ia masuk ke dalam rumah, aku menyambutnya sebagaimana pengantin menyambut kekasihnya yang dicintai, dalam keadaan aku pasrahkan diriku padanya… Jika ia ingin beristirahat maka aku membantunya dan jika ia menginginkan diriku aku pun berada di antara kedua tangannya seperti anak perempuan kecil yang dimainkan oleh ayahnya.”

Wasiat keenam: Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya, khususnya dengan ibu suami sebagai orang yang paling dekat dengannya. Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.
Berapa banyak rumah tangga yang masuk padanya pertikaian dan perselisihan disebabkan buruknya sikap istri terhadap ibu suaminya dan tidak adanya perhatian akan haknya. Ingatlah wahai hamba Allah, sesungguhnya yang bergadang dan memelihara pria yang sekarang menjadi suamimu adalah ibu ini, maka jagalah dia atas kesungguhannya dan hargailah apa yang telah dilakukannya. Semoga Allah menjaga dan memeliharamu. Maka adakah balasan bagi kebaikan selain kebaikan?

Wasiat ketujuh: Menyertai suami dalam perasaannya dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya.
Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu maka sertailah dia dalam duka cita dan kesedihannya. Aku ingin mengingatkan engkau dengan seorang wanita yang terus hidup dalam hati suaminya sampaipun ia telah meninggal dunia. Tahun-tahun yang terus berganti tidak dapat mengikis kecintaan sang suami padanya dan panjangnya masa tidak dapat menghapus kenangan bersamanya di hati suami. Bahkan ia terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Sang suami terus mencintainya dengan kecintaan yang mendatangkan rasa cemburu dari istri yang lain, yang dinikahi sepeninggalnya. Suatu hari istri yang lain itu (yakni Aisyah radliallahu ‘anha) berkata:
مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِلنَّبِيِّ؟ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ هَلَكَتْ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَنِي، لَمَّا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا
“Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal ia meninggal sebelum beliau menikahiku, mana kala aku mendengar beliau selalu menyebutnya.”11

Dalam riwayat lain:
مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا
“Aku tidak pernah cemburu kepada seorangpun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menyebutnya.”12

Suatu kali Aisyah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau menyebut Khadijah:
كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلا خَدِيْجَةُ فَيَقُولُ لَهَا إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ
“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah?!” Maka beliau berkata kepada Aisyah: ‘Khadijah itu begini dan begini.’”13

Dalam riwayat Ahmad pada Musnadnya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “begini dan begini” (dalam hadits diatas) adalah sabda beliau:
آمَنَتْبِي حِيْنَ كَفَرَ النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْكَذَّبَنِي النَّاسُ رَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْحَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللهُ مِنْهَا الوَلَد
“Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang meng-haramkan (menghalangi) aku dan Allah memberiku rezki berupa anak darinya.”14

Dialah Khadijah yang seorangpun tak akan lupa bagaimana ia mengokohkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi dorongan kepada beliau. Dan ia menyerahkan semua yang dimilikinya di bawah pengaturan beliau dalam rangka menyampaikan agama Allah kepada seluruh alam.

Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang masyhur yang menjadikan Nabi merasakan tenang setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali yang pertama:
وَاللهُ لا يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau menyambung silaturahmi, menanggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.”15

Jadilah engkau wahai saudari muslimah seperi Khadijah, semoga Allah meridhainya dan meridlai kita semua.

Wasiat kedelapan: Bersyukur (berterima kasih) kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaanya.
Siapa yang tidak tahu berterimakasih kepada manusia, ia tidak akan dapat bersyukur kepada Allah. Maka janganlah meniru wanita yang jika suaminya berbuat kebaikan padanya sepanjang masa (tahun), kemudian ia melihat sedikit kesalahan dari suaminya, ia berkata: “Aku sama sekali tidak melihat kebaikan darimu…” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ اَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ يَا رَسُولَ اللهِ وَلَمْ ذَلِكَ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ
“Wahai sekalian wanita bersedekahlah karena aku melihat mayoritas penduduk nereka adalah kalian.” Maka mereka (para wanita) berkata: “Ya Rasulullah kepada demikian?” Beliau menjawab: “Karena kalian banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami.”16

Mengkufuri kebikan suami adalah menentang keutamaan suami dan tidak menunaikan haknya.
Wahai istri yang mulia! Rasa terima kasih pada suami dapat engkau tunjukkan dengan senyuman manis di wajahmu yang menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaannya. Atau engkau ungkapkan dengan kata-kata cinta yang memikat yang dapat menyegarkan kembali cintamu dalam hatinya. Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya dalam menunaikan hakmu. Namun di mana bandingan kesalahan itu dengan lautan keutamaan dan kebaikannya padamu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا يَنْظُرُ اللهَ إِلَى امْرَأَةٍ لا تَشْكُرُ زَوْجَهَا وَهِيَ لا تَسْتَغْنِيَ عَنْهُ
“Allah tidak akan melihat kepada istri yang tidak tahu bersyukur kepada suaminya dan ia tidak merasa cukup darinya.”17

Wasiat kesembilan: Menyimpan rahasia suami dan menutupi kekurangannya (aibnya).
Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang paling dekat dengannya serta paling tahu kekhususannya (yang paling pribadi dari diri suami). Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang tercela untuk dilakukan oleh siapa pun maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi.
Sesungguhnya majelis sebagian wanita tidak luput dari membuka dan menyebarkan aib-aib suami atau sebagian rahasianya. Ini merupakan bahaya besar dan dosa yang besar. Karena itulah ketika salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebarkan satu rahasia beliau, datang hukuman keras, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersumpah untuk tidak mendekati isti tersebut selama satu bulan penuh.

Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya berkenaan dengan peristiwa tersebut.
وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ
“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya suatu peristiwa. Maka tatkala si istri menceritakan peristiwa itu (kepada yang lain), dan Allah memberitahukan hal itu kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepada beliau) dan menyembunyikan sebagian yang lain.” (At Tahriim: 3)

Suatu ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam mengunjungi putranya Ismail, namun beliau tidak mejumpainya. Maka beliau tanyakan kepada istri putranya, wanita itu menjawab: “Dia keluar mencari nafkah untuk kami.” Kemudian Ibrahim bertanya lagi tentang kehidupan dan keadaan mereka. Wanita itu menjawab dengan mengeluh kepada Ibrahim: “Kami adalah manusia, kami dalam kesempitan dan kesulitan.” Ibrahim ‘Alaihis Salam berkata: “Jika datang suamimu, sampaikanlah salamku padanya dan katakanlah kepadanya agar ia mengganti ambang pintunya.” Maka ketika Ismail datang, istrinya menceritakan apa yang terjadi. Mendengar hal itu, Ismail berkata: “Itu ayahku, dan ia memerintahkan aku untuk menceraikanmu. Kembalilah kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya. (Riwayat Bukhari)
Ibrahim ‘Alaihis Salam memandang bahwa wanita yang membuka rahasia suaminya dan mengeluhkan suaminya dengan kesialan, tidak pantas untuk menjadi istri Nabi maka beliau memerintahkan putranya untuk menceraikan istrinya.

Oleh karena itu, wahai saudariku muslimah, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya dan jangan engkau tampakkan kecuali karena maslahat yang syar’i seperti mengadukan perbuatan dhalim kepada Hakim atau Mufti (ahli fatwa) atau orang yang engkau harapkan nasehatnya. Sebagimana yang dilakukan Hindun radliallahu ‘anha di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hindun berkata: “Abu Sufyan adalah pria yang kikir, ia tidak memberiku apa yang mencukupiku dan anak-anakku. Apakah boleh aku mengambil dari hartanya tanpa izinnya?!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ambillah yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang ma`ruf.”
Cukup bagimu wahai saudariku muslimah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِنَّ مِنْ شَرِ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ أَحَدُهُمَا سِرُّ صَاحِبَهُ
“Sesungguhnya termasuk sejelek-jelek kedudukan manusia pada hari kiamat di sisi Allah adalah pria yang bersetubuh dengan istrinya dan istri yang bersetubuh dengan suaminya, kemudian salah seorang dari keduanya menyebarkan rahasia pasanannya.”18

Wasiat terakhir: Kecerdasan dan kecerdikan serta berhati-hati dari kesalahan-kesalahan.
- Termasuk kesalahan adalah: Seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan sebagian wanita yang dikenalnya kepada suaminya, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang yang demikian itu dengan sabdanya:
لا تُبَاشِرُ مَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَتَنْعَتَهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا
“Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu ia mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya melihatnya.”19
Tahukah engkau mengapa hal itu dilarang?!
- Termasuk kesalahan adalah apa yang dilakukan sebagian besar istri ketika suaminya baru kembali dari bekerja. Belum lagi si suami duduk dengan enak, ia sudah mengingatkannya tentang kebutuhan rumah, tagihan, tunggakan-tunggakan dan uang jajan anak-anak. Dan biasanya suami tidak menolak pembicaraan seperti ini, akan tetapi seharusnyalah seorang istri memilih waktu yang tepat untuk menyampaikannya.
- Termasuk kesalahan adalah memakai pakaian yang paling bagus dan berhias dengan hiasan yang paling bagus ketika keluar rumah. Adapun di hadapan suami, tidak ada kecantikan dan tidak ada perhiasan.
Dan masih banyak lagi kesalahan lain yang menjadi batu sandungan (penghalang) bagi suami untuk menikmati kesenangan dengan istrinya. Istri yang cerdas adalah yang menjauhi semua kesalahan itu.

Footnote:
1Riwayat Muslim dalam Al-Masajid: (bab Fadlul Julus fil Mushallahu ba’dash Shubhi wa Fadlul Masajid)2Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albany, lihat “Irwaul Ghalil“, no. 1269 dan “Shahihul Jami’” no. 61493Lihat kitab “Kaif Taksabina Zaujak?!” oleh Syaikh Ibrahim bin Shaleh Al Mahmud, hal. 134Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, ia berkata: Hadits hasan gharib. Berkata Al Albany: “Hadits ini sebagaimana dikatakan oleh Tirmidzi.” Lihat takhrij “Misykatul Masabih” no. 50195Al Masyakil Az Zaujiyyah wa Hululuha fi Dlaw`il Kitab wa Sunnah wal Ma’ariful Haditsiyah oleh Muhammad Utsman Al Khasyat, hal. 28-296Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan Al Albany, lihat “Shahihul Jami`us Shaghir” no. 52947Riwayat Thabrani dan Hakim dalam “Mustadrak“nya, dishahihkan Al Albany hafidhahullah sebagaimana dalam “Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah” no. 2888Lihat kitab “Al Kabair” oleh Imam Dzahabi hal. 173, cetakan Darun Nadwah Al Jadidah9Riwayat Ibnu Nuaim dalam “Al Hilyah“. Berkata Syaikh Al Albany: “Hadits ini memiliki penguat yang menaikkannya ke derajat hasan atau shahih.” Lihat “Misykatul Mashabih” no. 325410Hadits lemah, diriwayatkan Hakim dan dishahihkannya dan disepakati Dzahabi. Namun Al Albany mengisyaratkan kelemahan hadits ini. Illatnya pada Ibnu Sukhairah dan pembicaraaan tentangnya disebutkan secara panjang lebar pada tempatnya, lihatlah dalam “Silsilah Al Ahadits Ad Dlaifah” no. 111711Semuanya dari riwayat Bukhari dalam shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.12Semuanya dari riwayat Bukhari dalam shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.13Semuanya dari riwayat Bukhari dalam shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.14Diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya 6/118 no. 24908. Aku katakan: Al Hafidh Ibnu Hajar membawakan riwayat ini dalam “Fathul Bari“, ia berkata: “Dalam riwayat Ahmad dari hadits Masruq dari Aisyah.” Dan ia menyebutkannya, kemudian mendiamkannya. Di tempat lain (juz 7/138), ia berkata: “Diriwayatkan Ahmad dan Thabrani.” Kemudian membawakan hadits tersebut. Berkata Syaikh kami Abdullah Al Hakami hafidhahullah: “Mungkin sebab diamnya Al Hafidh rahimahullah karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Mujalid bin Said Al Hamdani. Dalam “At Taqrib” hal. 520, Al Hafidh berkata: “Ia tidak kuat dan berubah hapalannya pada akhir umurnya.” Al Haitsami bersikap tasahul (bermudah-mudah) dalam menghasankan hadits ini, beliau berkata dalam Al Majma’ (9/224): “Diriwayatkan Ahmad dan isnadnya hasan.”15Muttafaq alaihi, diriwayatkan Bukhari dalam “Kitab Bad’il Wahyi” dan Muslim dalam “Kitabul Iman“16Diriwayatkan Bukhari dalam “Kitab Al Haidl“, (bab Tarkul Haidl Ash Shaum) dan diriwayatkan Muslim dalam “Kitabul Iman” (bab Nuqshanul Iman binuqshanith Thaat)17Diriwayatkan Nasa’i dalam “Isyratun Nisa’” dengan isnad yang shahih.18Diriwayatkan Muslim dalam “An Nikah” (bab Tahrim Ifsya’i Sirril Mar’ah).19Diriwayatkan Bukhari dalam “An Nikah” (bab Laa Tubasyir Al Mar’atul Mar’ah).

Berkata sebagian ulama: “Hikmah dari larangan itu adalah kekhawatiran kagumnya orang yang diceritakan terhadap wanita yang sedang digambarkan, maka hatinya tergantung dengannya (menerawang membayangkannya) sehingga ia jatuh kedalam fitnah. Terkadang yang menceritakan itu adalah istrinya -sebagaimana dalam hadits dia atas- maka bisa jadi hal itu mengantarkan pada perceraiannya. Menceritakan kebagusan wanita lain kepada suami mengandung kerusakan-kerusakan yang tidak terpuji akibatnya.

Pesan Rasulullah untuk Fatimah az-Zahra

Ada sepuluh wasiat Rasulullah kepada putrinya Fatimah Az-Zahra, wasiat ini merupakan mutiara termahal nilainya,khususnya bagi setiap istri yang mendambakan kesalehan. Wasiat tersebut adalah:

1.Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yangmembuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, kelak Allah akan tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang diadonnya, dan juga Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya.

2.Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepunguntuk suami dan anak-anaknya, niscayaAllah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.

3.Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalumenyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya, maka Allah akan tetapkan pahalabaginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

4.Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yangmembantu kebutuhan tetangga-tetanggany a,maka Allah akan membantunya untukdapat meminum telaga kautsar pada harikiamat nanti.

5.Wahai Fatimah! Yang lebih utama dariseluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri.Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu,maka aku tidak akan mendoakanmu.Ketahuilah Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.

6.Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan,serta melebur seribu kejelakan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahalab aginya sama dengan pahala para pejuang Allah. Disaat seorang wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Disaat seorang wanita meninggal karena melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun, didalam kubur akan mendapat taman yang indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan padanya pahala yang sama dengan pahala seribu orang yangmelaksanakan ibadah haji dan umrah, danseribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7.Wahai Fatimah! Disaat seorang istrimelayani suaminya selama sehari semalam,dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya sertamemakaikan pakaian padanya dihari kiamatberupa pakaian yang serba hijau,dan menetapkan baginya setiap rambutpada tubuhnya seribu kebaikan. Allahpun akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.

8.Wahai Fatimah! Disaat seorang istritersenyum dihadapan suaminya, makaAllah akan memandangnya dengan pandanganpenuh kasih.

9.Wahai Fatimah! Disaat seorang istrimembentangkan alas ! tidur untuksuaminya dengan rasa senang hati, makapara malaikat yang memanggil darilangit menyeru wanita itu agarmenyaksikan pahala amalnya, dan Allahmengampuni dosa-dosanya yang telah laludan yang akan datang.

10.Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya,meminyaki jenggotnya dan memotong kumisnya serta kuku-kukunya, maka Allah akan memberi minuman yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah pun akan mempermudah sakaratul maut baginya,serta menjadikan kuburnya bagian daritaman surga. Allah pun menetapkanbaginya bebas dari siksa neraka sertadapat melintasi shirathal mustaqim dengan selamat.

Etika Bercanda Dalam Islam

Dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam pernah bercanda ketika memanggil shahabatnya :"Hai yang mempunyai dua telinga " (HR. Tirmidzi dalam Syamail 225 dan Sunan-nya 1992, 3828; Abu Dawud no. 5002; dan Ahmad 3/117, 127. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4182).

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam juga pernah berkata kepada seorang perempuan tua : "Tidak ada perempuan tua yang masuk surga". Kemudian beliau shallallaahu 'alaihi wasallam membaca ayat : "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan " (Al-Waaqi'ah : 35-36) (HR. Tirmidzi dalam Syamail 240 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ghayatul-Maram 375).

Dari Anas radliyallaahu 'anhu diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki menemui Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, bawalah aku jalan-jalan". Beliau berkata : "Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta". Laki-laki itu pun menukas : "Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?". Beliau berkata : "Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?" (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya dalam kitab Al-Adab - 92 bab Riwayat tentang Bersendau-Gurau hadits no. 3998 (V : 270) dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III : 943 no. 4180. Dikeluarkan juga oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Birr - 57 bab Riwayat tentang Bersendau-Gurau hadits no. 1992 (VI : 207)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu diriwayatkan bahwa ia berkata : "Orang-orang bertanya : 'Wahai Rasulullah, apakah engkau juga mengajak kami bercanda?'. Beliau menjawab : 'Ya, tapi aku hanya mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa berdusta) " (HR. Tirmidzi dalam kitab Al-Birr wash-Shilah - 57 bab Riwayat tentang Sendau-Gurau 1991; dan beliau berkata : "Hadits ini hasan shahih".

Dari beberapa riwayat tentang kelakar/bercandanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam terkumpul padanya 3 (tiga) perkara :
1. Tidak berdusta / tidak mengada-ada.2. Dilakukan terhadap wanita, anak-anak, dan kalangan pria yang lemah yang butuh bimbingan.3. Jarang dilakukan (kadang-kadang).

Tiga perkara di atas hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin - baik bagi orang awam, para da'i, dan para pemimpin - dalam bermuamalah terhadap sesama. Tidak halal hukumnya sengaja melucu dengan hal-hal kedustaan agar manusia tertawa karenanya. Merupakan musibah di masyarakat ketika profesi pelawak menjadi sangat laris di masyarakat. Hendaknya mereka bertaubat kepada Allah ta'ala dan meninggalkannya, sebab rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mengancam mereka (yang melucu dengan dusta agar orang-orang tertawa) dengan sabdanya : "Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu (membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya " (HR. Abu Dawud dalam kitab Al-'Adab - 88, bab Ancaman Keras terhadap Dusta; hadits no. 3990 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III : 942 no. 4175).

Dengan demikian, berlebihan dalam kelakar dan terus-terusan dengannya adalah terlarang, karena hal itu akan menjatuhkan kehormatan dan menumbuhkan dendam serta kemarahan. Adapun kalau sedikit, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, maka hal itu mengandung kebaikan jiwa. Dan terakhir, tersisa nasihat emas dari Imam Dzahabi rahimahullah bagi kita semua, dengan perkataannya : "...hendaknya mereka membatasi diri dan hendaknya mereka mencela diri sendiri sehingga jiwanya tidak goyah.

Sementara bagi mereka yang berwajah kusam masam, hendaknya mereka tersenyum dan memperelokkan akhlaqnya, serta harus marah kepada diri sendiri karena kejelekan akhlaqnya. Setiap penyimpangan yang keluar dari rel penyimpangan adalah tercela. Sehingga jiwa itu perlu dididik dan dibenahi" (Siyaaru A'lamin-Nubalaa' X/140, 141).

Surat untuk papa

Teringat waktu saya kecil, papa pangku diriku dan dan papa peluk dengan kasih sayang
Teringat akan padaku saat papa marah, menarik kupingku hinggah merah.
Saya sangat marah hinggah terpikir pasti menyenangkan bila tak ada papa
Dan teringat juga saat saya memintah mainan yang paling saya inginkan dan itu harus ada
Saat saya bersekolah papa berusaha dan trus barusaha menyuruh saya sekolah yang giat
Harus rajin belajar hinggah menjadi yang terbaik. Tapi itu membuat saya berpikir papa jahat dan egois
Hanya ingin mebuat saya menjadi seperti keinginannya tapi tak pernah mengerti kalau saya juga punya hak.
Tapi sekarang disaat papa tak ada, saya baru sadar kalau saya membutuhkan papa.
Menginginkan papa untuk menegur atau memarahi saya. Saya baru sadar pa.
Kalau apa yang papa lakukan kepada saya tak lain karena sayangnya papa pada saya
Dan usaha papa untuk mendidik saya. Adalah Karena papa tau kalau saya suatu saat akan menjadi seperti papa.
Maafkan saya pa, kalau saya terlambat belajar dan dan tidak mau dewasa.
Mafkan saya pa, kalau saya tetap ego saat papa mendidik saya dan merasa kalau apa yang papa ajarkan itu banyak salahnya. Dan beranggapan kalau lingkungan yang lebih benar tapi saya sadar pa. itu saya lakukan karena harga diri pa.
Pa kalau saya mendapat satu permohonan yang pasti akan dikabulkan, saya akan memintah agar papa bisa ada disini, karenah saya membutuhkan papa.
Papa terimah kasih untuk semuanya, disaat akhir hidupmu papa masih bisa memberikan satu ajaran berharga untuk saya. Saya ingat kata papa “ lakukan saja nak, ambil semua kesempatan yang datang, kalau tak ada maka ciptakan kesempatan itu. karena keadaan itu suatu ketetapan dari ketetapan yang diciptakan oleh kita sendiri saya seorang pegawai negri tapi saya tidak ingin anakku menjadi seorang pegawai negri”
Makasih pa, saya bangga sebagai anakmu, dan saya bersyukur kepada tuhan kalau saya lahir dari rahim ibuku sehinggah bisa menjadi anak papa.
Makasih pa, dari anakmu yang bangga memiliki ibu dan papa, serta keluarga besarku
Terimah kasih untuk semuanya, karena kalian saya bisa……………… amin

Kebanggan koruptor

Kalian bodoh, karena kalian tidak tahu bahwa saya adalah koruptor
Kalian dungu, karena kalian tidak tahu kalau kalian adalah budak dari keserakahanku
Kalian pengecut, karena kalian berani menindasku bila kalian beramai-ramai
Kalian pemalas, karena kalian bergerak melawanku bila ada yang mengkordinir
Itulah kebanggaanku sebagai koruptor, dan akan saya ajarkan kepada para calon- calon koruptor baru
Inilah kebanggaanku sebagai koruptor karena hukum bisa saya tundukkan
Dan inilah kebangganku sebagai seorang koruptor,
Karena kami dapat tumbuh dan berkembang subur dan menghasilakan bibit baru
Dan kebanggaan koruptor yang terbaik adalah karena pengikut kami adalah..........
Orang-orang terbaik dan terpandai diantara yang pandai dan yang terbaik
Dan kebanggan kami yang terhebat, adalah karena kami tak bisa dimusanakan
Karena kami dipuja-puja dan sangat dicari

Pertemuan tiga jiwa

Malam makin larut, ditengah peraduannya
Tiga jiwa tersatu dalam renungan dalam keadaan yang harus terjadi.
Jiwa menatap jiwa yang lain, jiwa merasakan jiwa yang lain,
Rasa, cinta, dendam , beradu dalam kesatuan yang menginkan semua selesai
Dia atau saya, saya dia kamu siapa yang pantas
Semua rasa keinginan, semua hasrat akan terjawab dengan satu ungkapan,
Dia atau saya, pilih aku, pilh saya
Jangan pilh dia,

Mati kau jangan pernah kau ada disini

Kemarin duniaku menjadi sangat indah
Tak ada yang seindah ini, tapi sekarang semua hancur lebur tidak berbekas
Itu karena kamu, mati aja atau pergi sana jauh-jauh, saya tak mau melihat mu lagi
Rasa yang kau beri, begitu indah bagiku,
Kasih yang kau hadiahkan untukku setiap hari.
Itu hanya merupakan topeng keindahan, yang kau buat dari kemunafikan

Ampun

Rasa sayang padamu mungkin tak besar, rasa cintaku juga tak mungkin besar
Tapi keinginan untuk dekat denganmu selalu ada, untuk mendekap.
Memeluk, mencium, serta meremas- remas apa yang dicari pria
Cintaku maaf kalau dihatiku ini Cuma ada nafsu
Cintaku maaf kalau pikiranku Cuma berkisar sahwat
Dan maafkan cintaku kalau dirimu hanya pemuas nafsuku
Tapi inilah diriku manusia yang mendewakan nafsu
Hidup hanya untuk merasakan nikmat dan tak ada susah bagiku
Tapi sekarang diriku mati untuk hidup dan hidup untuk mati
Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaaaan yang maha kuasa
Dengar pintah manusia yang hebat ini
kesombongan adalah nama tengahku, angkuh nama akhirku
maafkan aku karena aku ya aku
sadar kalau aku salah
ya tuhan maafkan aku

Dunia dan kemunafikan

Kemayu daun melambai diterpa angin, semerbak wangi bunga yang baru mekar.
Selamat pagi nan ceria selamat datang hari yang bahagia. Senyumku simpul menyambutmu.
Hai dunia gimana kabarnya, gimana kabar semua yang hidup,
dan gimana kabar mahluk yang paling munafik.
Mahluk yang menganggap dirinya kuat, tapi kenyataannya lemah.
Kemunafikan yang terpapar nyata, tapi tak dapat disentuh.
Kemunafikan yang tumbuh subur, dan tak terjamah
Kemunafikan yang menjangkit dan membuat sakit seluruh mahluk
Kemunafikan yang abadi disetiap jaman
Darah mengalir, keringat tercucur deras dari insan yang terluka
Terluka oleh ketidak adillan, yang makin tak seimbang dengan kerakusan jiwa
Hukum yang tak perna bisa sembuh dari kebutaannya.
Mau jadi apa negriku ini, apa akan jadi seonggok sampah
Karena dipenuhi oleh sampah yang berwujud jiwa yang bersih
Hai mahluk yang jiwanya bersih dan jiwanya munafik
Hidup dan keselamatan untuk kaliaan amin